Thursday, May 19, 2011
Pilihan-Pilihan Dalam Praktek Filantropi Islam
Topik tentang konsep dasar dan praktik filantropi Islam saat ini masih menarik untuk dikaji karena beberapa hal. Pertama, meskipun topik ini bukan hal baru, praktik dan pengelolaan filantropi Islam khususnya di negara-negara Muslim relatif cukup berkembang setidaknya dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan organisasi filantropi Islam dan kemampuan mereka dalam memobilisasi dana ummat.
Kedua, praktik filantropi Islam, khususnya di Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, masih sangat khas, yaitu terfokus pada program-program penguatan pelayanan kesejahteraan masyarakat, baik dalam bidang sosial, ekonomi maupun kesehatan. Ketiga, belum banyak, untuk tidak mengatakan tidak ada, gerakan filantropi Islam yang mencoba menyentuh aspek-aspek yang lebih bernuansa estetik (baca: tidak sekedar fisik dan material), seperti preservasi budaya, kesenian dan penguatan tradisi intelektual.
Filantropi Islam yang saya maksudkan adalah kegiatan komunitas yang tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat, diantaranya melalui kegiatan ‘memberi’. Secara konseptual, setidaknya dilihat dari makna filosofinya, filantropi memang agak berbeda dengan tradisi memberi dalam Islam, seperti zakat, infak maupun shadaqah. Filantropi lebih berorientasi pada ‘kecintaan pada manusia’, motivasi moral. Sementara dalam Islam, basis filosofisnya adalah ‘kewajiban’ dari ‘Yang di Atas’ untuk mewujudkan keadilan sosial di muka bumi. Namun, belakangan istilah-istilah tersebut ini popular dipergunakan secara bersamaan dan bertukaran untuk mengidentifikasi praktik kedermawanan berbasis agama, termasuk di kalangan Muslim.
Dalam sebuah kelas musim panas di Universiteit Tilburg, Kerajaan Belanda, bulan Juni 2009, dengan professor tamu seorang ahli Hukum Islam dari School of Law, University of California-Los Angles (UCLA), Kaleed Abou el-Fadhl, memuncul diskusi yang menarik tentang filantropi Islam dalan kaitannya dengan penguatan dan pencarian idenititas Islam di era modern. Abou Fadhl sendiri memberikan perkuliahan selama dua minggu dan mendiskusikan berbagai materi tentang Islam di Timur Tengah dan Barat, konsep dan ajaran dasar Islam, dinamika budaya dan politik serta identitas kultural komunitas Muslim, dialog Islam dan kemodernan, Islam paskakolonial, dan sebagainya.
Salah satu isu yang dilontarkan Abou Fahl adalah masalah filantropi. Ia menegaskan perlunya upaya sistematis untuk memeliharan tradisi Islam dengan cari mengkaji sumber–sumber klasik untuk kemudian dapat terus didialogkan dengan kemodernan. Hal itu, menurutnya, memberikan kontribusi penting bagi ummat Islam di era modern: pertama, agar ummat Islam dalam lebih memahami apa yang disebut dengan identitas dan tradisi Islam itu tanpa terjebak dengan simbol-simbol yang artifisial;
Kedua, ummat Islam lebih kreatif dan inovatif, sesuai dengan prinsip ijtihad, serta tidak bersikap defensif maupun apologetik ketika berdialog dengan modernitas. Tapi, catat Abou Fadhl, upaya tersebut tidak mudah, perlu proses yang panjang dan serius yang didukung oleh gerakan filantropi Islam. Karena memperkuat perpustakaan yang mengoleksi karya-karya klasik Islam, bahasa Melayu maupun Arab, membayar orang-orang yang berdedikasi untuk mengkajinya dan merefleksikannya kepada dunia modern, butuh biaya cukup besar.
Tiba-tiba Abou Fadhl melontarkan pertanyaan: “bagaimana dengan praktik filantropi Islam di negara kamu?” Saya tidak buru-buru menjawab, sampai saya sadar bahwa pertanyaan tersebut terkait dengan gagasannya tentang eksplorasi identitas Muslim melalui kajian karya-karya klasik intelektual Islam. Saya katakan bahwa gerakan filantropi Islam di Indonesia dewasa ini, yang diantaranya direpresentasikan oleh organisasi sosial dan lembaga-lembaga amil zakat, kelihatannya masih terkonsentrasi pada aspek-aspek yang populis dengan membuat program-program untuk penyantunan, perbaikan tempat ibadah, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, atau juga pemberiaan beasiswa untuk anak-anak kurang mampu.
Saya tekankan bahwa hal itu bukan tanpa alasan. Masyarakat Indonesia secara umum masih bergelut dengan krisis, terutama di tingkat akar rumput. Sebagian bahkan masih harus “disubsidi” dalam bentuk cash dengan dana BLT (Bantuan Langsung Tunai). Sistem penjaminan sosialnya masih lemah, dan bolong di sana-sini. Pun, asuransi kesehatan dari pemerintah untuk kelompok miskin pinggiran—seperti Askeskin, Jamkesos, kartu miskin, dan yang semacam dengan ini—masih tambal sulam, dan masih banyak di kalangan miskin pinggiran yang malah sama sekali tidak mendapatkan akses pada program tersebut. Tak heran, lembaga pengobatan gratis yang disediakan organisasi sosial dan lembaga zakat masih ramai didatangi orang. Mereka masih bersedia antri untuk sebuah pelayanan yang tidak terlalu berbelit-belit.
Saya juga jelaskan pula bahwa dulu, Dr. Nurcolish Madjid, membuat sebuah lembaga filantropi, Yayasan Wakaf dan Lazis Paramadina yang misinya selaras dengan apa yang didiskusikan oleh Abou Fadhl. Yayasan ini cukup serius melakukan kajian-kajian sumber-sumber klasik Islam, mencoba mendialogkan tradisi Islam dengan modernitas, nasionalisme dan masalah keindonesiaan, serta menerbitkan berbagai hasil kajian reguler dengan mendatangkan berbagai pakar melalui dana wakaf, infak dan shadaqah. Yayasan ini, juga mencoba mendefinisikan ulang tentang makna kemiskinan, yang tidak hanya bersifat fisik dan material, tetapi juga spiritual dan intelektual.
Tapi, seberapa kuatkah daya tarik program-program tersebut bagi para donatur, seberapa pentingkah dimata muzakki risalah dan karya tentang literatur klasik Islam, seberapa penting pula sebuah perpustakaan yang mengoleksi naskah-naskah intelektual yang ditulis Muslim Indonesia masa silam, misalnya abad ke-17 sampai ke-19 Masehi dimata para dermawan. Memang, kegiatan-kegiatan Yayasan Wakaf Paramadian itu sendiri saat ini tidak semasif dan se-populer dulu. Lagi pula, donatur saat ini lebih tertarik dengan hal yang lain yang lebih populer dan kasat mata.
Mendengar penjelasan saya, Abou Fadhl langsung mengomentari tentang kontestasi “moral” dalam sebuah kegiatan filantropi: yaitu manakah yang lebih baik, menyumbangkan dana ke perpustakaan untuk memeliharan karya-karya klasik, langka dan “bernilai” sejarah, ataukah memberi makan orang miskin. Membiayai pemuda-pemuda kreatif di bidang senirupa, sastra, musik, dan drama, ataukah membagikan beras dan lauk pauk di daerah miskin perkotaan. Memang, selalu ada tarik menarik secara moral antara pilihan-pilihan seperti diatas, terutama di negara-negara berkembang. Membiayai penerbitan buku-buku untuk pengayaan khasanah pemikiran yang dapat dikonsumsi oleh publik dengan biaya murah, ataukah membiayai buka bersama berulang kali. Semuanya, memang memiliki plus-minus, orang bisa menggunakan logika ‘prioritas’ tetapi bisa juga dengan argumen ‘pilihan’.
Hemat saya, apa yang dikatakan Abou Fadhl ada benarnya, yaitu bahwa lembaga-lembaga filantropi yang beroperasi selama ini memang berada dalam pilihan-pilihan beragam. Mereka harus menentukan skala prioritas, setidaknya dengan menjalankan kegiatan yang lebih strategis, populis, dan tentu saja ‘marketable’. Bagaimanapun, nafas gerakan filantropi berada di tangan masyarakat, dermawan, donatur, dan kelompok wajib zakat yang menyadari kewajibannya. Karena itu, di Indonesia saya melihat seolah-olah ada “kesepakatan tidak tertulis” dalam menjalankan program atau kegiatan filantropi. Lembaga filantropi Islam (salah satunya: lembaga amil zakat) dengan amil zakat lainnya yang cukup besar di Indonesia, nampaknya tidak memiliki perbedaan yang mencolok secara konseptual, paradigmatik, dan bahkan secara teknis, kecuali jumlah ‘pendapatan’ hasil fund raising mereka.
Dari segi program dan kegiatan, misalnya, lebih banyak kemiripan satu sama lain daripada sebuah inovasi yang berkarakter: dalam bidang kesehatan, pelayanan kesehatan gratis, baik yang parsial maupun berkesinambungan menjadi salah satu kecenderungan; dalam bidang sosial, apalagi kalau bukan memberikan bantuan ‘ala kadarnya’ untuk para mustahik yang datang silih berganti ke kantor amil zakat (beruntung masih ada lembaga-lembaga filantropi Islam yang mencoba menyusun program jangka panjang untuk pemberdaayan eknomi dan pendidikan); dalam bidang dakwah Islam fî sabîlillah, selain membiayai para da’i juga kerap tidak bisa dipisahkan dengan renovasi dan pembangunan tempat ibadah.
Seorang teman saya, penulis buku dan pecinta seni dan satra di Yogyakarta, pernah bertanya: ‘sepengetahuan kamu, adakah lembaga filantropi Islam yang mau membiayai pementasan teater anak-anak remaja?’ Teman ini membayangkan bahwa ia dapat menggarap pementasan teater dan drama yang dapat didukung oleh lembaga filantropi Islam. Saya sendiri tidak bisa langsung menjawab ya atau tidak, karena keterbatasan pengetahuan saya sendiri. Meski dari pengalaman pribadi, saya belum sempat melihatnya secara langsung. Jawaban saya diplomatis saja, ‘mungkin ada, tapi belum banyak.’ Kelangkaannya mungkin juga disebabkan pemahaman konsep dakwah yang masih cukup jauh dari faham tertentu yang mengapresiasi ‘dunia estetika’.
Dakwah melalui ‘musik-musik religius’ mungkin sudah banyak, meskipun tetap konsep bisnis tidak bisa dipisahkan dari itu. Tapi untuk membiayai teater anak-anak remaja! Saya tidak tahu persis.Tentu saja di sini saya tidak hendak mengatakan bahwa program pelayanan adalah sesuatu yang meaningless. Sebab konsep karitas dan bentuk pelayanan kepada fakir miskin dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi juga masih sangat dibutuhkan (meskipun sesungguhnya itu utamanya adalah tanggung jawab negara). Apalagi di tengah krisis yang belum sepenuhnya pulih, kondisi sosial politik yang belum sepenuhnya stabil, dan gejala korupsi yang menjalar dimana-mana dan menjarah hak-hak publik dan penjaminan sosial kaum miskin.
Arifin Purwakananta yang salah satu petinggi sebuah lembaga filantropi besar di Indonesia, mengatakan bahwa untuk saat ini tidak hanya advokasi yang kita butuhkan, tetapi juga pelayanan masih tetap harus dilakukan. Saya setuju dengan pernyataannya dengan tidak mengurangi pentingnya merambah dimensi lain. Kalau kita cermati, manusia dan kelompok masyarakat membutuhkan berbagai dimensi dalam hidupnya, baik fisik-material (pemenuhan kebutuhan dasar), psikis-spiritual (penguatan mental), dan etis-intellektual (penguatan basis institusi pengetahuan), dan mungkin juga estetis (penguatan kantong-kantong kesenian dan kebudayaan). Lembaga filantropi Islam, punya potensi kuat untuk memasuki dimensi-dimensi tersebut.
Tetapi pencarian ‘arah baru’ filantropi Islam tidak hanya berada dipundak pengelola organisasi filantropi Islam, tetapi juga dari para dermawan. Proses ‘pencerdasan’ dan pencerahan di kalangan dermawan/muzakki, individu maupun instituti, maupun pengelola memang perlu terus dilakukan, sehingga program dan kegiatan filantropi Islam yang menyentuh aspek kebutuhan fisik, psikis, etis, akademis, dan estetis, tetap layak jual dan dianggap sebagai bagian dari kebutuhan manusia.
Hilman Latief
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Email: h_latief@umy.ac.id
| Reactions: |
Sunday, February 06, 2011
Menggali Potensi Filantropi lewat LAZISMU
Jum'at, 27 Agustus 2010 , 15:56:00 WIB
Rakyat Merdeka
FILANTROPI atau sering diterjemahkan dengan “kedermawanan sosial” memiliki akar yang sangat kuat dalam Islam. Praktik filantropi dalam Islam biasanya merujuk pada penyelenggaraan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Untuk itu, sebagaimana halnya dengan shalat, puasa, dan ibadah haji, Islam juga mengajarkan secara detail bagaimana zakat harus dihitung dan dikelola.
Dalam rangka menggali gerakan filantrofi islam di Indonesia LAZISMU dan Maarif Institute menggelar peluncuran dan bedah buku, "Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis" karya Hilman Latief, di Aula Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta kemarin Kamis, (26/08) dengan Moderator M. Khoirul Muttaqien, Presiden Direktur LAZISMU.
Dalam sambutannya, Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institute sangat apresiatif dengan hadirnya buku karangan Hilman Latief ini. Buku ini sebagai bukti bahwa intelektualisme masih bisa digalakan terlagi filantrofi Islam bagian yang tak bisa dianggap remeh untuk menuai kesejahteraan bagi kaum miskin, apalagi dalam buku ini banyak membedah kaum modernis membicarakan format kesejahteraan umat.
Hilman dalam penuturannya merasa bangga bisa menyelesaikan buku yang sangat dinanti-nantikan oleh umat sebagai kerinduan akan gerakan kedermawanan sosial. Dia juga menambahkan bahwa buku ini adalah karangan yang sangat spesial bagi perkembangan Muhammadiyah yang memang bergelut dalam gerakan sosial khususnya LAZISMU.
“Saya ingin mengatakan bahwa gerakan filantrofi yang dilakukan LAZISMU harus bisa diselaraskan sebagai solidaritas komunal, LAZISMU juga harus punya keprihatinan universal agar bisa mencapai civil society. LAZISMU harus bisa menjadi grand maker bagi pendayagunaan masyarakat miskin,” sebut Irfan Abu Bakar, Direktur Eksekutif CSRC yang juga tampil sebagai pembicara.
Bagi Arifin Purwakananta, Direktur Program Dompet Dhuafa, yang paling terpenting dari gerakan filantrofi Muhammadiyah adalah menjaga eksistensi kepeloporan amal usaha yang telah lama dimiliki oleh Muhammadiyah. Dengan semangat menjalankan visi al-Ma’un Muhammadiyah telah menjadi pemicu bagi gerakan kepeloporan sosial di negeri ini. Kaum Modernis yang menjadi backbone aktifitas sosial dan dakwah telah membentuk gesture program bagi akar rumput.
Dengan adanya bedah buku ini, M. Khoirul berharap LAZISMU sebagai gerakan zakat nasional, bisa menjadi LAZ yang terpercaya bagi perkembangan filantrofi islam.
Salurkan zakat, infaq, sedekah, dan donasi lainnya melalui LAZISMU dengan nomor rekening:BCA (Zakat:8780040077,Infaq:8780040051), Mandiri (Zakat:123.000.5117.405, Infaq:123.000.5117.371), Syariah Mandiri (Zakat :009.0033333, Infaq: 009.0066666). Layanan jemput Zakat melalui Customer Care, M. Nurul Ikhsan (085852615102) atau Kantor LAZISMU (021-31 50 400). [adv]
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=2355
Rakyat Merdeka
FILANTROPI atau sering diterjemahkan dengan “kedermawanan sosial” memiliki akar yang sangat kuat dalam Islam. Praktik filantropi dalam Islam biasanya merujuk pada penyelenggaraan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Untuk itu, sebagaimana halnya dengan shalat, puasa, dan ibadah haji, Islam juga mengajarkan secara detail bagaimana zakat harus dihitung dan dikelola.
Dalam rangka menggali gerakan filantrofi islam di Indonesia LAZISMU dan Maarif Institute menggelar peluncuran dan bedah buku, "Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis" karya Hilman Latief, di Aula Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta kemarin Kamis, (26/08) dengan Moderator M. Khoirul Muttaqien, Presiden Direktur LAZISMU.
Dalam sambutannya, Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institute sangat apresiatif dengan hadirnya buku karangan Hilman Latief ini. Buku ini sebagai bukti bahwa intelektualisme masih bisa digalakan terlagi filantrofi Islam bagian yang tak bisa dianggap remeh untuk menuai kesejahteraan bagi kaum miskin, apalagi dalam buku ini banyak membedah kaum modernis membicarakan format kesejahteraan umat.
Hilman dalam penuturannya merasa bangga bisa menyelesaikan buku yang sangat dinanti-nantikan oleh umat sebagai kerinduan akan gerakan kedermawanan sosial. Dia juga menambahkan bahwa buku ini adalah karangan yang sangat spesial bagi perkembangan Muhammadiyah yang memang bergelut dalam gerakan sosial khususnya LAZISMU.
“Saya ingin mengatakan bahwa gerakan filantrofi yang dilakukan LAZISMU harus bisa diselaraskan sebagai solidaritas komunal, LAZISMU juga harus punya keprihatinan universal agar bisa mencapai civil society. LAZISMU harus bisa menjadi grand maker bagi pendayagunaan masyarakat miskin,” sebut Irfan Abu Bakar, Direktur Eksekutif CSRC yang juga tampil sebagai pembicara.
Bagi Arifin Purwakananta, Direktur Program Dompet Dhuafa, yang paling terpenting dari gerakan filantrofi Muhammadiyah adalah menjaga eksistensi kepeloporan amal usaha yang telah lama dimiliki oleh Muhammadiyah. Dengan semangat menjalankan visi al-Ma’un Muhammadiyah telah menjadi pemicu bagi gerakan kepeloporan sosial di negeri ini. Kaum Modernis yang menjadi backbone aktifitas sosial dan dakwah telah membentuk gesture program bagi akar rumput.
Dengan adanya bedah buku ini, M. Khoirul berharap LAZISMU sebagai gerakan zakat nasional, bisa menjadi LAZ yang terpercaya bagi perkembangan filantrofi islam.
Salurkan zakat, infaq, sedekah, dan donasi lainnya melalui LAZISMU dengan nomor rekening:BCA (Zakat:8780040077,Infaq:8780040051), Mandiri (Zakat:123.000.5117.405, Infaq:123.000.5117.371), Syariah Mandiri (Zakat :009.0033333, Infaq: 009.0066666). Layanan jemput Zakat melalui Customer Care, M. Nurul Ikhsan (085852615102) atau Kantor LAZISMU (021-31 50 400). [adv]
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=2355
| Reactions: |
Sunday, May 23, 2010
Tanpa Bantuan, Kemensos Sulit Atasi Anjal
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Permasalahan anak jalanan (anjal) di Indonesia harus lebih banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Jika pengentasan anjal hanya dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) sendiri, hal itu dirasa mustahil.
Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, menyatakan dukungan dari berbagai elemen masyaraka sangat diperlukan, termasuk dari pemprov. ''Ke depan, Kemensos bersama pemda akan melakukan langkah-langkah terkait pengentasan anak jalanan. Mungkin bisa dengan transmigrasi, memberikan mereka perumahan, dan lain-lain,'' ujar saat meninjau anak jalanan pinggiran Waduk Melati, di Jakarta, Akhir pekan lalu.
Salah seorang anjal bernama Iqbal (12 tahun), mengaku sudah biasa tidur di jalanan. Dirinya yang biasa sehari-hari bekerja sebagai pengamen jalanan, mengaku tidak tinggal bersama orang tuanya. ''Tinggal di sini saja, bersama teman-teman,'' tuturnya sambil menunjuk sebuah gubuk di pinggiran rel kereta api.
Dengan bekerja sebagai pengamen jalanan bersama beberapa temannya, dia mengaku bisa mendapat uang sebesar 50 ribu rupiah. Dengan uang sebesar itu, Iqbal dapat memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari.
Di lokasi tersebut, tak kurang terdapat 200 kepala keluarga yang membangun bangunan semi permanen di atas tanah milik PT KAI. Bahkan, sebagian besar mereka mengaku tak mempunyai KTP Jakarta. Salah seorang penghuni lainnya, Sujono, mengaku dirinya hanya mempunyai KTP Jawa Tengah.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/05/16/115839-tanpa-bantuan-kemensos-sulit-atasi-anjal
Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, menyatakan dukungan dari berbagai elemen masyaraka sangat diperlukan, termasuk dari pemprov. ''Ke depan, Kemensos bersama pemda akan melakukan langkah-langkah terkait pengentasan anak jalanan. Mungkin bisa dengan transmigrasi, memberikan mereka perumahan, dan lain-lain,'' ujar saat meninjau anak jalanan pinggiran Waduk Melati, di Jakarta, Akhir pekan lalu.
Salah seorang anjal bernama Iqbal (12 tahun), mengaku sudah biasa tidur di jalanan. Dirinya yang biasa sehari-hari bekerja sebagai pengamen jalanan, mengaku tidak tinggal bersama orang tuanya. ''Tinggal di sini saja, bersama teman-teman,'' tuturnya sambil menunjuk sebuah gubuk di pinggiran rel kereta api.
Dengan bekerja sebagai pengamen jalanan bersama beberapa temannya, dia mengaku bisa mendapat uang sebesar 50 ribu rupiah. Dengan uang sebesar itu, Iqbal dapat memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari.
Di lokasi tersebut, tak kurang terdapat 200 kepala keluarga yang membangun bangunan semi permanen di atas tanah milik PT KAI. Bahkan, sebagian besar mereka mengaku tak mempunyai KTP Jakarta. Salah seorang penghuni lainnya, Sujono, mengaku dirinya hanya mempunyai KTP Jawa Tengah.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/05/16/115839-tanpa-bantuan-kemensos-sulit-atasi-anjal
| Reactions: |
Thursday, April 08, 2010
Islamic Charity: A conversation with Amy Singer
| By David Green The philanthropic tradition is as old as Islam itself. This is one of the principal messages of Prof. Amy Singer's sweeping survey of the subject, "Charity in Islamic Societies" (Cambridge University Press, 246 pages, $33). Singer, a Princeton-educated professor of Ottoman history at Tel Aviv University, says in the book's introduction that she was in part motivated to write it because, since September 11, 2001, "Muslim charity has... received some very bad press, with analysts and observers frequently emphasizing the links between charity and extremist violence." But charity is an integral part of every Muslim's life, with one of several types of charitable giving in the faith, zakat (the obligatory alms tax), belonging to the five pillars of Islamic practice. As the book demonstrates with copious examples from the 1,400-year history of the Muslim world, acts of philanthropy turn up at every level of society - from relations between neighbors to the relationship between the sovereign and his subjects - with the role played by the recipient no less important than that played by the giver. Weaving many anecdotes and personal experiences into her narrative, in addition to careful textual readings, Singer captures the psychological subtleties that characterize nearly all aspects of charitable giving, and demonstrates how these have manifested themselves throughout history. As a consequence, her book has a freshness and relevancy that is not always found in scholarly works. Haaretz spoke with Amy Singer by phone from her home in Tel Aviv. Q: Your CV includes several books either edited or written by you on charity in Islam. How did you come to this area of study? A: It's been an interesting historical journey. My doctoral dissertation was about relations between peasants and government in the Jerusalem area in the 16th century. While I was working on that, many villages I was studying became part of the revenue-producing properties of an Ottoman Waqf (that is, a charitable endowment) in Jerusalem. The endowment was for a large public kitchen and was set up in the Old City by the wife of the Sultan Suleiman, Hurrem Sultan. It was still operating as late as the 1950s as a public kitchen, where a few older Jerusalemites told me they remember stopping as children on the way to school. The endowment still exists, though today I think it's a vocational school for boys. Once I started researching this, I became interested in the whole subject of endowments and philanthropy, and that led me to the general subject of charity and philanthropy in Islam. I realized that nothing had really been written on the subject, nothing that could serve as a one-stop-shopping kind of book. My book tries to introduce people who are interested in Islam to the subject of charity in Islamic societies, as well as to issues that would interest people involved in charity in general, such as the hierarchies created between givers and receivers, general questions about giving, about transparency, about the destination and origin of funds - all of these are part of an older discussion that has gone on for centuries in Judaism, Christianity and Islam, as well as in other ideological traditions. Q: How much of this conversation is taking place within the Muslim world? A: Well, I just came back from the second World Conference of Muslim Philanthropists, in Abu Dhabi. The WCMP was founded by Muslims in the U.S. as a forum for donors to discuss and promote effective and sustainable ideas and practices of philanthropic giving as part of the international community of humanitarians. But these sorts of discussions are going on worldwide. ... Just as we assume that tzedakah is a fundamental part of Jewish identity, faith and practice, this is true in equal measure for Muslims. And so they're having the same discussions that are taking place elsewhere. There are big transnational Muslim philanthropies, like Islamic Relief or the Aga Khan Development Network, working on a global scale, just like CARE or Doctors Without Borders. Q: How were you, an Israeli and a Jew, received in Abu Dhabi? A: This was a conference of practitioners, rather than academics, principally. But people were interested in and accepting of my work, and in some instances told me they were grateful that there's a book that talks about all this in one place. I'm not a scholar of Islamic law and not a Muslim, but the book brings together 14 centuries of historical examples, and is not based solely in the Middle East or even the Arabic-speaking world. Even Muslims who know the Koranic traditions and the hadith [oral traditions about the Prophet] on the subject, aren't necessarily familiar with many of these historical examples. Q: You describe the centrality of assistance to the weak in Muslim society. It made me wonder if there is any tradition in Islam similar to the Protestant ethic, of holding the individual responsible for his or her own fate? A: I haven't seen that aspect emphasized. In general terms, Islam is much more akin to Catholicism than to Protestantism, stressing compassion and the efficacy of beneficence. In giving, Muslims are in part trying to make amends, to restore the balance for misdeeds. However, there is also a hadith that says, "It is better for one of you to take a rope and cut wood and sell it than to beg from someone who might or might not give." There are two points here. One is to encourage people to take up even menial labor to sustain themselves. The other is actually a caution against testing the beneficence of others. However, in other texts, scholars maintain that people of means who have lost their wealth should not be shamed by their poverty. This is one of many examples of the dynamic discussions ongoing among Muslim jurists. To the extent that there has been a meaningful change in attitudes toward the poor, it took place largely in the 19th century, and was part of the discourse in the Muslim world on modernization. It's hard to disentangle that discussion from the impact of foreign Western ideas, advisors, occupiers or colonial powers. It's more of an import. Which doesn't mean that there aren't real discussions about which people are more or less deserving of help. Gypsies, for example, are sometimes explicitly excluded, as were criminals or prostitutes. ... Sultan's wives and sisters had funds to help orphan girls get married. This was all part of an ethic of beneficence. Of course, the social context of this was that this was a way to help these women be provided for, so they would not become a social problem - just as helping a man get a job is based on a social logic. Perhaps in that sense, charitable practices had an element of the Protestant ethic, but it wasn't accompanied by the kind of censure that went along with that ethic. Q: The book also made me think of the vast network of self-help organizations that exist within ultra-Orthodox society, the gemach system. A: Yes, the Orthodox community provides an important parallel. In history, it's hard to get a look below the top echelons of society, hard to learn about those who live on the edge of survival. But the Orthodox communities offer an example of how even people who we would call poor also act as donors, and how this is an important part of their lives. One finds this today, but it is conceivably what was going on historically. You have tiny stories of people giving in small amounts. This might be part of what makes it possible for people to accept the giving as a part of what the community is about. Perhaps it takes the sting out of being on the receiving end: Now I'm getting something, but maybe tomorrow I'll be in a position to give. It gives you a much greater sense of humility about what the trajectory of life is going to dish up. Q: I read that you head the Women's Studies Forum at Tel Aviv University. How does your interest in charity connect with that? A: I'm not actually involved in women's studies as a discipline. The NCJW [National Council of Jewish Women] Program in Women and Gender Studies is a degree-granting program at the university today, but the forum predated that by 15 or 20 years and actually gave birth to it. It was a place where people interested in women and gender studies collected and worked together. What I can say is that I think the impact of feminist theory has contributed to creating new avenues of research that look below or beyond politics and diplomacy and intellectual history, to people who don't seem obviously empowered, and asks how our understanding of history changes when you write those people back into it. You look at war and say, what are the roles of women during war? For example, if you don't understand the way women are being affected by today's downturn, you won't understand more general trends in society. Q: How has your work on this book affected your own charitable giving? A: It has made me much more careful in investigating to whom I'm giving money. I find myself thinking much more about not just the structure of a particular philanthropy, but also about what seems to work. Honestly, I think I'm more worried about where I invest my charitable funds than I am in the returns I'm getting on my financial investments, to the extent that I have any. It's complicated to balance all the considerations. What is it you want your money to achieve? What's important to you, what matters most - this is something that takes a while to figure out. I find the whole idea of micro-finance, for example, to be incredibly compelling. It creates capacity and independence among people who are otherwise condemned to be poor. You see examples of this in South Asia, where it was first introduced by Nobel Prize-winner Muhammad Yunus of Bangladesh, but also in Africa. More and more, I'm persuaded that capacity building is the most persuasive way to go. But there are also questions like: Is it right to give money overseas if there are people in south Tel Aviv who are hungry? That's a fair question. You don't necessarily have to answer it, but at least you should ask it of yourself. My research has raised these and many more questions, which ultimately affect the way I consider the reality of the world I live in. That's what's so persuasive about the study of history and societies seemingly unlike your own: It enlarges your world. | ||||
| http://www.haaretz.com/hasen/spages/1083956.html | ||||
| Reactions: |
Sunday, April 04, 2010
MUHAMMADIYAH EMPOWERS RURAL FARMERS
The Jakarta Post - February 08, 2008
Yogyakarta: The country's second biggest Muslim organization, Muhammadiyah, has been known to concentrate its programs and activities in the education, health and social services sectors in urban areas.
The fact that Muhammadiyah runs thousands of educational institutions ranging from playgroups to universities as well as hospitals and orphanages across the archipelago, is indicative of the organization's commitment to the community.
Lately, however, there seems to be a change in the air -- or more precisely speaking, an expansion of Muhammadiyah's services to the public.
Chairman of the organization, Din Syamsuddin, was recently seen leading a harvest ceremony of a particular agricultural product in a Central Java village.
Around the same time, executives of the organization were spotted in other rural villages in other parts of the country, also attending harvest ceremonies.
It turns out that Muhammadiyah, through its community empowerment council (MPM), has been conducting a pilot project in these villages to help improve economic factors for farmers and introduce more environmentally friendly farming systems.
The project is aimed at helping restore the country's food self-sufficiency while increasing the income and bargaining power of farmers.
"Since its birth, Muhammadiyah has dealt with rural problems," Vice Chairman Haedar Nashir said.
"I think it's time for us to help give farmers an identity and show that farming is a profession in Indonesia," he added.
Speaking separately to The Jakarta Post, Chairman of MPM of Muhammadiyah's central executive board, Said Tuhuleley, said the program would aim to broaden the aims of the organization.
"Yes, Muhammadiyah is good in the fields of education, health and social services but we neglect other areas which directly affect those at the grassroots of our communities," Said said.
Following Muhammadiyah's 2000 congress in Jakarta, a special institution for laborers, farmers and fishermen was established. Yet, as it was only at the central level, the institution failed to have any significant impact at the rural level.
However, the 2005 congress in Malang, East Java, saw the establishment of the community empowerment council directly under the control of Muhammadiyah's central executive board.
The council was tasked with four community empowerment programs that aimed to; increase people's awareness of their rights and responsibilities as citizens, improve people's income and quality of life, provide public policy advocacy and establish a crisis recovery center.
"The council was also established at the provincial and regental levels," said Said, adding that doing so made it easier for the council to execute programs in all levels of society.
Said added the role of the council coincided with the ambitions of founder Ahmad Dahlan, who established the Majelis Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO) to help end people's suffering.
In Indonesia, food supply is perceived as one of the biggest problems the country is currently facing.
Said added that more and more poor people around the country were now forced to consume nasi aking (dried, recycled spoiled rice) and queue for long periods to buy cheaper rice. Farmers, he said, were also finding it harder to make ends meet.
"This situation made us decide that one way of helping end people's suffering was through empowering farmers and fishermen."
So far, according to Said, the farmer empowerment program has covered 30 regencies in the provinces of East Java, Central Java, West Java, Maluku and South Sulawesi.
"We are now preparing to include 12 other provinces in the program by April this year," he said, adding some of the provinces included were Bengkulu, North Sumatra, South Sumatra, Lampung, Central Sulawesi, North Maluku, West Nusa Tenggara and West Kalimantan.
In terms of empowering fishermen, he said, MPM has so far run one pilot project for coastal fishpond cultivation (tambak) in Bungoro sub-district, Pangkajene Kepulauan regency, in South Sulawesi.
"We are also preparing a three-year program to create Desa Pesisir Mandiri (self-sufficient coastal villages) aimed at empowering coastal communities."
The empowerment program for fishermen also aims to reduce production costs and improve product quality and quantity.
Source: The Jakarta Post - www.thejakartapost.com
Yogyakarta: The country's second biggest Muslim organization, Muhammadiyah, has been known to concentrate its programs and activities in the education, health and social services sectors in urban areas.
The fact that Muhammadiyah runs thousands of educational institutions ranging from playgroups to universities as well as hospitals and orphanages across the archipelago, is indicative of the organization's commitment to the community.
Lately, however, there seems to be a change in the air -- or more precisely speaking, an expansion of Muhammadiyah's services to the public.
Chairman of the organization, Din Syamsuddin, was recently seen leading a harvest ceremony of a particular agricultural product in a Central Java village.
Around the same time, executives of the organization were spotted in other rural villages in other parts of the country, also attending harvest ceremonies.
It turns out that Muhammadiyah, through its community empowerment council (MPM), has been conducting a pilot project in these villages to help improve economic factors for farmers and introduce more environmentally friendly farming systems.
The project is aimed at helping restore the country's food self-sufficiency while increasing the income and bargaining power of farmers.
"Since its birth, Muhammadiyah has dealt with rural problems," Vice Chairman Haedar Nashir said.
"I think it's time for us to help give farmers an identity and show that farming is a profession in Indonesia," he added.
Speaking separately to The Jakarta Post, Chairman of MPM of Muhammadiyah's central executive board, Said Tuhuleley, said the program would aim to broaden the aims of the organization.
"Yes, Muhammadiyah is good in the fields of education, health and social services but we neglect other areas which directly affect those at the grassroots of our communities," Said said.
Following Muhammadiyah's 2000 congress in Jakarta, a special institution for laborers, farmers and fishermen was established. Yet, as it was only at the central level, the institution failed to have any significant impact at the rural level.
However, the 2005 congress in Malang, East Java, saw the establishment of the community empowerment council directly under the control of Muhammadiyah's central executive board.
The council was tasked with four community empowerment programs that aimed to; increase people's awareness of their rights and responsibilities as citizens, improve people's income and quality of life, provide public policy advocacy and establish a crisis recovery center.
"The council was also established at the provincial and regental levels," said Said, adding that doing so made it easier for the council to execute programs in all levels of society.
Said added the role of the council coincided with the ambitions of founder Ahmad Dahlan, who established the Majelis Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO) to help end people's suffering.
In Indonesia, food supply is perceived as one of the biggest problems the country is currently facing.
Said added that more and more poor people around the country were now forced to consume nasi aking (dried, recycled spoiled rice) and queue for long periods to buy cheaper rice. Farmers, he said, were also finding it harder to make ends meet.
"This situation made us decide that one way of helping end people's suffering was through empowering farmers and fishermen."
So far, according to Said, the farmer empowerment program has covered 30 regencies in the provinces of East Java, Central Java, West Java, Maluku and South Sulawesi.
"We are now preparing to include 12 other provinces in the program by April this year," he said, adding some of the provinces included were Bengkulu, North Sumatra, South Sumatra, Lampung, Central Sulawesi, North Maluku, West Nusa Tenggara and West Kalimantan.
In terms of empowering fishermen, he said, MPM has so far run one pilot project for coastal fishpond cultivation (tambak) in Bungoro sub-district, Pangkajene Kepulauan regency, in South Sulawesi.
"We are also preparing a three-year program to create Desa Pesisir Mandiri (self-sufficient coastal villages) aimed at empowering coastal communities."
The empowerment program for fishermen also aims to reduce production costs and improve product quality and quantity.
Source: The Jakarta Post - www.thejakartapost.com
| Reactions: |
Monday, March 15, 2010
Konsultan PBB Tertarik Posyandu Lansia “SAKINAH”
Wates- Sabtu (16/08/2008), Susan Erb, petugas dari UNHCR-UNICEF (Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menangani Lansia di Nepal, India dan juga Indonesia mengunjungi Pemeriksaan Kesehatan di Posyandu Lansia “SAKINAH” yang dikelola Aisyiyah di Gunung Gempal, Giripeni, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Dalam kesempatan ini Susan didapingi Nuryadin S. Sos dari MKKM PWM DIYdan Dra. Hj. Siti Wardanah Muhadi, S.H. dari PP Aisyiyah menemui sekitar 130 lansia yang dilayani relawan dari ibu-ibu Aisyiyah setempat.
Menurut Endang Daruwati, SE Ketua Program Posyandu Lansia ini kepada Susan, program ini sudah berjalan secara resmi sejak 25 Februari 2006, yang salah satu programnya adalah mengusahakan terjaganya kesehatan jasmani dan rokahni kalangan lansia di daerah Gunung Gempal ini. Menurutnya, dalam kegiatan ini Aisyiyah dibantu oleh tenaga medis dari Rumah Sakit PKU Muh Wates, Mahasiswi STIKES Aisyiyah Yogyakarta dan relawan kader Aisyiyah Wates yang kebetulan berprofesi sebagai tenaga medis seperti dokter dan perawat. “Kami mengadakan Pemeriksaan kesehatan yang dirangkai pengajian ini sebulan sekali dan senam lansia seminggu duakali “ terang Endang kemudian.
Selanjutnya Endang menjelaskan bahwa dalam pengelolaan Posyandu ini pengelola menghadapi hambatan berupa kurangnya prasarana, masih perlunya dukungan dana dan juga belum semua Lansia di lingkungan itu bisa hadir sesuai dengan jadwa yang ditentukan karena tidak adanya pendamping yang mengantarkan ke lokasi Posyandu.
Kesan dan Saran
Susan yang berasal dari Amerika dan tinggal di Inggris ini berkesempatan mewawancarai langsung beberapa Lansia tentang latarbelakang keluarga, harapan dan juga kesan aan Posyandu Lansia ini. Dalam wawancara yang diterjemahkan oleh awak redaksi website muhammadiyah tersebut terungkap bagaimana senangnya Lansia mengikuti program Posyandu itu. “Kulo diparingi susu teng mriki” (Saya diberi susu disini) ungkap salah satu peserta yang mengaku sudah ditinggal meninggal dunia suaminya.
Dalam kesempatan itu Susan menyatakan sangat terkesan dengan program Aisyah, karena menurutnya menambah penemuan hal-hal unik yang dia dapatkan di Muhammadiyah. Susan sempat menyarankan agar pengelola Posyandu membuat program yang memungkinkan para Lansia bertukar pengalaman dengan para remaja dan pemuda. Karena menurutnya program semacam itu akan membuat mereka merasa tidak terbuang. ”Sekaligus bagi yang muda agar bisa belajar dari pengalaman hidupnya” terangnya dalam bahasa Inggris. (arif).
http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1276&Itemid=2
Menurut Endang Daruwati, SE Ketua Program Posyandu Lansia ini kepada Susan, program ini sudah berjalan secara resmi sejak 25 Februari 2006, yang salah satu programnya adalah mengusahakan terjaganya kesehatan jasmani dan rokahni kalangan lansia di daerah Gunung Gempal ini. Menurutnya, dalam kegiatan ini Aisyiyah dibantu oleh tenaga medis dari Rumah Sakit PKU Muh Wates, Mahasiswi STIKES Aisyiyah Yogyakarta dan relawan kader Aisyiyah Wates yang kebetulan berprofesi sebagai tenaga medis seperti dokter dan perawat. “Kami mengadakan Pemeriksaan kesehatan yang dirangkai pengajian ini sebulan sekali dan senam lansia seminggu duakali “ terang Endang kemudian.
Selanjutnya Endang menjelaskan bahwa dalam pengelolaan Posyandu ini pengelola menghadapi hambatan berupa kurangnya prasarana, masih perlunya dukungan dana dan juga belum semua Lansia di lingkungan itu bisa hadir sesuai dengan jadwa yang ditentukan karena tidak adanya pendamping yang mengantarkan ke lokasi Posyandu.
Kesan dan Saran
Susan yang berasal dari Amerika dan tinggal di Inggris ini berkesempatan mewawancarai langsung beberapa Lansia tentang latarbelakang keluarga, harapan dan juga kesan aan Posyandu Lansia ini. Dalam wawancara yang diterjemahkan oleh awak redaksi website muhammadiyah tersebut terungkap bagaimana senangnya Lansia mengikuti program Posyandu itu. “Kulo diparingi susu teng mriki” (Saya diberi susu disini) ungkap salah satu peserta yang mengaku sudah ditinggal meninggal dunia suaminya.
Dalam kesempatan itu Susan menyatakan sangat terkesan dengan program Aisyah, karena menurutnya menambah penemuan hal-hal unik yang dia dapatkan di Muhammadiyah. Susan sempat menyarankan agar pengelola Posyandu membuat program yang memungkinkan para Lansia bertukar pengalaman dengan para remaja dan pemuda. Karena menurutnya program semacam itu akan membuat mereka merasa tidak terbuang. ”Sekaligus bagi yang muda agar bisa belajar dari pengalaman hidupnya” terangnya dalam bahasa Inggris. (arif).
http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1276&Itemid=2
| Reactions: |
Saturday, March 13, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)

